Korupsi di Indonesia sudah berkembang secara sistemik. Indonesia bahkan menempati posisi terendah dalam banyak daftar mengenai penanganan kasus korupsi suatu negara. Alhasil, Indonesia kerap dinobatkan sebagai negara yang paling korup. Padahal, sudah ada lembaga sendiri untuk mengurusi kasus-kasus korupsi di Indonesia.

Sayangnya, hingga kini banyak terjadi permasalahan dan tekanan dari dalam maupun luar lembaga tersebut yang pada akhirnya tidak juga menemukan titik terang untuk melihat masalah peringkat tersebut. Bahayanya lagi, sudah banyak yang menganggap kasus korupsi adalah suatu hal yang biasa dan bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum besar.

Negara tetangga, Singapura, berhasil menempati posisi ke tujuh dari atas tentang penanganan kasus korupsi. Melihat hal ini seharusnya Indonesia bisa berkaca dan malu sendiri. Negara kecil seperti Singapura bisa pada posisi ini, sedangkan negara dengan SDM dan SDA yang begitu besar ini justru terus digerogoti oleh manusia-manusia serakah dari bangsanya sendiri.

Padahal, sudah sejak lama Indonesia mencanangkan gerakan anti korupsi. Berbagai artikel tentang korupsidan edukasi mengenai beberapa kasusnya juga sudah banyak sekali dirilis. Sayangnya, hingga kini belum ada perubahan yang signifikan terkait penanganan berbagai kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. Hampir setiap tahunnya, masih ada saja praktik korupsi yang dilancarkan. Mengapa demikian?

  1. Tidak ada upaya dan komitmen kuat dari pemerintah

Beberapa kasus korupsi lewat begitu saja tanpa penghukuman yang terlihat serius dari pemerintah Indonesia. Banyak drama yang dibuat justru malah saling menjatuhkan beberapa pihak. Padahal, seharusnya masyarakat tidak perlu menyaksikan kebobobrokan negeri ini dengan ditambah drama-drama lainnya yang menghiasai kebobrokan tersebut.

Hal ini tentu saja membuktikan, pemerintah sendiri belum terlalu serius menanggapi berbagai macam kasus tindah pidana korupsi yang sudah merugikan uang negara milyaran bahkan triliyunan rupiah. Kalau ini dibiarkan dan tetap tidak ada komitmen yang serius dari pihak terkait untuk memberantas korupsi, sudah pasti generasi kita selanjutnya akan menerima kebobrokan lebih berat.

  1. Hukuman kurang membuat jera

pixabay.com

Banyak yang sepakat, bahwa hukuman bagi para narapidana korupsi kurang “menghukum” mereka secara individu terhadap tindakannya tersebut. Padahal, beberapa kali masyarakat sudah mendengar wacana terkait akan diadakannya hukuman mati bagi para koruptor. Namun, nyatanya wacana hanyalah wacana belaka dan belum pernah terjadi hingga saat ini.

Alasan yang mendasari hukuman semacam ini belum dilakukan di Indonesia, karena hukuman mati bagi para koruptor kurang efektif. Jika tidak ada hukuman tegas semacam ini, sudah menjadi barang tentu jika koruptor semakin merajalela.

  1. Korupsi sudah menjadi sistem yang kuat

Kasus korupsi di Indonesia sejatinya bukan lagi sekadar perkara individu. Kelihatannya memang para pelaku korupsi ditangkap sendirian, namun di balik itu semua, terdapat sebuah sistem yang kuat hingga akarnya mencengkram, sehingga cukup sulit “dicabut”. Alhasil, mereka yang ditangkap kerap kali memiliki backing orang-orang kuat nan berkuasa.

Hal ini membuat mereka yang “dikorbankan” menjadi rela ditangkap dan bisa jadi mendadak bisu saat diinterogasi. Dengan begitu, sudah jelas dan sudah dapat dipastikan korupsi ini sudah menjadi masalah yang sangat sistemik di Indonesia karena kekokohan akarnya. Jika seluruh elemen betul-betul bekerjasama dalam memberantas korupsi, tentu ini semua dapat dengan mudah ditanggulangi.

  1. Sudah mengakar menjadi budaya

pixabay.com

Indonesia terkenal dengan banyak budaya, kini mungkin bisa dikatakan, salah satunya adalah korupsi yang sudah menjadi budaya. Akar kuatnya ini rupanya bukan hanya yang kita kenal pada masa orde baru, melainkan sudah dari zaman kerajaan. Mulai dari puluhan bahkan ratusan tahun lalu, korupsi sudah menyusupi tanah Indonesia hingga membuar beberapa kerajaan besar hancur.

Kemudian, berlanjut pada zaman Belanda yang mulai menanamkan tindakan tak terpuji ini. Para penjajah sengaja mengangkat para tokoh dan petinggi lokal dan memberinya upeti, demi dengan mudahnya melancarkan segala kepentingan Belanda di tanah air ini. Lambat laun, sudah menjadi barang tentu jika korupsi semakin mengakar kuat dan menjelma menjadi pohon yang sangat besar.

Berdasarkan pantauan dari Kontenesia, itulah tadi beberapa hal yang menyebabkan tindak pidana korupsi terus terjadi. Keluar dan masuknya para koruptor dari penjara adalah sesuatu hal yang menurut sebagian orang baisa saja. Sebab, saat keluar dari bui, mereka bisa saja melakukan kesalahan yang sama, bahkan lebih dari itu. Padahal sudah jelas, bahwa korupsi adalah perbuatan yang sangat merugikan banyak pihak.

Kita tentunya masih berharap korupsi betul-betul hilang dari tanah air. Paling tidak, berkurang sedikit saja sudah menjadi kemajuan yang luar biasa. Daripada melakukan tindak pidana korupsi, lebih baik gunakan akal dan otak yang sehat untuk membuat artikel tentang korupsi yang berkualitas. Anda bisa mendaftarkan diri sebagai penulis artikel lepas hanya di Kontenesia.

 

Artikel Tentang Korupsi
Scroll to top